Tugas Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
MANFAAT EKONOMI DARI BADAK SUMATRA (Dicerorhinus
Sumatrensis)
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
David Wiranata
171201157
Hut 4A
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
BADAK SUMATRA (Dicerorhinus Sumatrensis)
Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang memiliki dua
cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil dibandingkan
semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang
besar. Populasi terbesar dan mungkin paling memadai untuk berkembang biak
(viable) saat ini terdapat di Sumatera, sementara populasi yang lebih kecil
terdapat di Sabah dan Semenanjung Malaysia. populasinya di alam saat ini diperkirakan
kurang dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang ada menunjukkan jumlah
populasi sebenarnya lebih rendah dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk
dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically
endangered) - dalam daftar mrah spesies terancam lembaga konservasi
dunia, IUCN. Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga
hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan
dengan vegetasi yang sangat lebat. Badak Sumatera adalah penjelajah dan pemakan
buah (khususnya mangga liar dan buah fikus), daun-daunan, ranting-ranting kecil
dan kulit kayu. Mereka lebih menyukai dataran rendah, khususnya di hutan-hutan
sekunder di mana banyak terdapat sumber makanan yang tumbuh rendah. Badak Sumatera
hidup di alam dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri (soliter).
Status
Kritis (Critically Endangered)
Populasi
300 individu
Berat
600 - 950 kg
Nama Ilmiah
Dicerorhinus sumatrensis
Habitat
Hutan rawa dataran rendah hingga Hutan perbukitan
Tinggi
1 – 1,5 meter
Ciri-ciri Fisik Badak Sumatra
Badak Sumatera juga dikenal
memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh sub-spesies badak di dunia,
sehingga sering disebut hairy rhino (badak berambut). Ciri-ciri lainnya adalah
telinga yang besar, kulit berwarna coklat keabu-abuan atau kemerahan - sebagian
besar ditutupi oleh rambut dan kerut di sekitar matanya. Panjang cula depan
biasanya berkisar antara 25 - 80 cm, sedangkan cula belakang biasanya relatif
pendek dan tidak lebih dari 10 cm. Saat anak badak sumatera lahir hingga remaja
biasanya kulitnya ditutupi oleh rambut yang lebat berwarna coklat kemerahan.
Bersamaan dengan bertambahnya usia satwa ini, rambut yang menutupi kulitnya
semakin jarang dan berubah kehitaman. Panjang tubuh satwa dewasa berkisar
antara 2-3 meter dengan tinggi 1 - 1,5 meter. Berat badan diperkirakan berkisar
antara 600-950 kg. Para ahli memperkirakan tidak ada satu pun populasi Badak
Sumatera yang jumlah individunya dalam satu wilayah jelajah melebihi 75 ekor.
Kondisi tersebut menyebabkan mamalia besar ini sangat rentan terhadap kepunahan
baik akibat bencana alam, penyakit, perburuan, atau kerusakan genetis. Kurang
dari 25 ekor diyakini saat ini bertahan hidup di Sabah, sedangkan untuk
Kalimantan tidak ada informasi atau data yang akurat tentang keberadaan satwa
bercula dua ini.
Tingkah laku Badak Sumatra
Badak sumatera adalah binatang
penyendiri, kecuali pada musim kawin dan selama membesarkan keturunan. Wilayah
jangkauan pejantan dapat mencapai 50 km2, sedangkan betina 10–15 km2. Jangkauan
para betina tampaknya terpisah oleh jarak, sedangkan jangkauan para pejantan
seringkali saling bersinggungan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa badak
sumatera mempertahankan wilayah mereka melalui perkelahian. Penandaan wilayah
masing-masing dilakukan dengan cara menggores tanah dengan kaki mereka,
membengkokkan pohon muda dengan pola yang khas, dan meninggalkan kotoran. Badak
sumatera biasanya paling aktif pada saat makan, pada waktu fajar, dan sesaat
setelah senja. Pada siang hari, mereka berkubang dengan cara mandi lumpur untuk
mendinginkan tubuh dan beristirahat. Saat musim hujan, mereka pindah ke tempat
yang lebih tinggi; pada masa-masa yang lebih dingin, mereka kembali ke daerah
yang lebih rendah dalam wilayah jangkauan mereka. Kalau lubang lumpur tidak
tersedia, badak tersebut akan memperdalam genangan air dengan kaki dan culanya.
Kebiasaan berkubang membantu badak mempertahankan suhu tubuhnya dan melindungi
kulitnya dari ektoparasit dan serangga lainnya. Spesimen di penangkaran, yang
tidak mendapat waktu berkubang secara memadai, dengan cepatnya menderita
kerusakan kulit dan peradangan, pernanahan, masalah pada mata, peradangan kuku,
kerontokan rambut, dan akhirnya mati. Suatu penelitian selama 20 bulan mengenai
kebiasaan berkubang mendapati bahwa mereka tidak akan mengunjungi lebih dari
tiga kubangan pada setiap waktu tertentu. Setelah 2–12 bulan menggunakan suatu
kubangan tertentu, badak tersebut akan meninggalkannya. Biasanya mereka
berkubang sekitar tengah hari selama dua sampai tiga jam sebelum mencari makan.
Meskipun pengamatan terhadap badak sumatera di kebun-kebun binatang
memperlihatkan bahwa mereka berkubang kurang dari 45 menit sehari, penelitian
terhadap badak-badak liar menemukan bahwa mereka berkubang antara 80–300 menit
(dengan rata-rata 166 menit) sehari.
Cara berkomunikasi Badak Sumatra
Badak sumatera merupakan
spesies badak yang paling vokal (banyak bersuara). Pengamatan terhadap spesies
ini di kebun-kebun binatang memperlihatkan bahwa badak sumatera hampir terus
menerus bersuara, dan diketahui bahwa mereka juga melakukannya di alam liar.
Badak sumatera mengeluarkan tiga suara berbeda: eep, "paus", dan
"tiupan peluit". Eep, berupa satu dengkingan pendek selama satu
detik, merupakan suara yang paling umum. "Paus", dinamakan demikian
karena kemiripannya dengan vokalisasi paus bungkuk, merupakan suara yang paling
serupa dengan nyanyian dan kedua yang paling umum. Nada suara "paus"
bervariasi dan berlangsung selama 4–7 detik. "Tiupan peluit"
merupakan suara siulan selama 2 detik yang segera disusul dengan suatu semburan
udara. "Tiupan peluit" adalah vokalisasi yang paling keras, cukup
keras untuk membuat jeruji besi pada kandang kebun binatang di mana badak
tersebut diamati menjadi bergetar. Maksud dari semua vokalisasi ini tidak
diketahui, meskipun ada teori yang menyatakan bahwa mereka melakukannya untuk
menyampaikan adanya bahaya, kesiapan secara seksual, dan lokasi, seperti halnya
vokalisasi hewan berkuku lainnya. "Tiupan peluit" dapat terdengar
dari jarak yang sangat jauh, bahkan dalam semak lebat di mana badak sumatera
tinggal. Vokalisasi dengan volume serupa dari gajah terbukti dapat terdengar
hingga jarak 9,8 km dan "tiupan peluit" mungkin dapat terdengar
sampai sejauh itu juga. Badak sumatera kadang-kadang memilin anakan pohon yang
tidak mereka makan. Perilaku ini diyakini sebagai suatu bentuk komunikasi,
seringkali menandakan adanya persimpangan dalam suatu lintasan.
Manfaat Ekonomi dari Komoditi Kehutanan (Badak Sumatra (Dicerorhinus
Sumatrensis)), sejauh ini, pemanfaatan gajah jinak di Indonesia telah dilakukan untuk
beberapa hal, di antaranya untuk pendidikan dan mitigasi konflik badak dengan
manusia. Selain itu, dapat bermanfaat untuk penelitian ekologi, kegiatan
konservasi, dan ekowisata.
Manfaat yang dapat dirasakan oleh manusia dari badak yaitu untuk membantu berbagai pekerjaan dalam bidang pertanian, culanya dapat dipakai sebagai hiasan dan meningkatkan
nilai seni (namun sebaiknya jangan diambil semaunya). Manfaat lainnya
adalah membuat jalan, karena tubuhnya yang besar, badak juga memerlukan jalan yang lebar
jika ingin lewat. Saat badak “membelah” hutan, badak juga membuat
jalan baru sehingga hewan lain bisa menggunakan jalan baru itu untuk
memudahkan mereka dalam mencari makanan. Sebagai Pupuk Alami yang dapat di
jual, kotoran badak ternyata bisa menjadi pupuk alami. Dalam sehari, badak bisa
mengeluarkan kotoran hingga 18 kali. Badak juga berperan dalam
menyebarkan jenis tanaman. Badak memakan biji-bijian yang kemudian
dibuang dalam bentuk kotoran ke berbagai tempat. Biji-bijian yang sudah diolah
di pencernaan gajah akan tercampur dengan kotoran dan secara tidak
langsung akan disuburkan oleh pupuk alami itu sehingga bisa cepat tumbuh.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar