Kamis, 11 April 2019

MANFAAT EKONOMI SALAH SATU KOMODITI KEHUTANAN

Tugas Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                         Medan,     April 2019
MANFAAT EKONOMI DARI BADAK SUMATRA (Dicerorhinus Sumatrensis)

Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
David Wiranata
171201157
Hut 4A




PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019



BADAK SUMATRA (Dicerorhinus Sumatrensis)
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), adalah satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatera adalah badak yang memiliki ukuran terkecil dibandingkan semua sub-spesies badak di dunia, meskipun masih tergolong hewan mamalia yang besar. Populasi terbesar dan mungkin paling memadai untuk berkembang biak (viable) saat ini terdapat di Sumatera, sementara populasi yang lebih kecil terdapat di Sabah dan Semenanjung Malaysia. populasinya di alam saat ini diperkirakan kurang dari 300 ekor. Meskipun demikian, indikasi yang ada menunjukkan jumlah populasi sebenarnya lebih rendah dari perkiraan tersebut. Satwa ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) - dalam daftar mrah spesies terancam lembaga konservasi dunia, IUCN. Habitat Badak Sumatera mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya satwa langka ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat. Badak Sumatera adalah penjelajah dan pemakan buah (khususnya mangga liar dan buah fikus), daun-daunan, ranting-ranting kecil dan kulit kayu. Mereka lebih menyukai dataran rendah, khususnya di hutan-hutan sekunder di mana banyak terdapat sumber makanan yang tumbuh rendah. Badak Sumatera hidup di alam dalam kelompok kecil dan umumnya menyendiri (soliter).





Status
Kritis (Critically Endangered)

Populasi
300 individu

Berat
600 - 950 kg


Nama Ilmiah
Dicerorhinus sumatrensis

Habitat
Hutan rawa dataran rendah hingga Hutan perbukitan

Tinggi
1 – 1,5 meter      

Ciri-ciri Fisik Badak Sumatra

                 Badak Sumatera juga dikenal memiliki rambut terbanyak dibandingkan seluruh sub-spesies badak di dunia, sehingga sering disebut hairy rhino (badak berambut). Ciri-ciri lainnya adalah telinga yang besar, kulit berwarna coklat keabu-abuan atau kemerahan - sebagian besar ditutupi oleh rambut dan kerut di sekitar matanya. Panjang cula depan biasanya berkisar antara 25 - 80 cm, sedangkan cula belakang biasanya relatif pendek dan tidak lebih dari 10 cm. Saat anak badak sumatera lahir hingga remaja biasanya kulitnya ditutupi oleh rambut yang lebat berwarna coklat kemerahan. Bersamaan dengan bertambahnya usia satwa ini, rambut yang menutupi kulitnya semakin jarang dan berubah kehitaman. Panjang tubuh satwa dewasa berkisar antara 2-3 meter dengan tinggi 1 - 1,5 meter. Berat badan diperkirakan berkisar antara 600-950 kg. Para ahli memperkirakan tidak ada satu pun populasi Badak Sumatera yang jumlah individunya dalam satu wilayah jelajah melebihi 75 ekor. Kondisi tersebut menyebabkan mamalia besar ini sangat rentan terhadap kepunahan baik akibat bencana alam, penyakit, perburuan, atau kerusakan genetis. Kurang dari 25 ekor diyakini saat ini bertahan hidup di Sabah, sedangkan untuk Kalimantan tidak ada informasi atau data yang akurat tentang keberadaan satwa bercula dua ini.



Tingkah laku Badak Sumatra
                 Badak sumatera adalah binatang penyendiri, kecuali pada musim kawin dan selama membesarkan keturunan. Wilayah jangkauan pejantan dapat mencapai 50 km2, sedangkan betina 10–15 km2. Jangkauan para betina tampaknya terpisah oleh jarak, sedangkan jangkauan para pejantan seringkali saling bersinggungan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa badak sumatera mempertahankan wilayah mereka melalui perkelahian. Penandaan wilayah masing-masing dilakukan dengan cara menggores tanah dengan kaki mereka, membengkokkan pohon muda dengan pola yang khas, dan meninggalkan kotoran. Badak sumatera biasanya paling aktif pada saat makan, pada waktu fajar, dan sesaat setelah senja. Pada siang hari, mereka berkubang dengan cara mandi lumpur untuk mendinginkan tubuh dan beristirahat. Saat musim hujan, mereka pindah ke tempat yang lebih tinggi; pada masa-masa yang lebih dingin, mereka kembali ke daerah yang lebih rendah dalam wilayah jangkauan mereka. Kalau lubang lumpur tidak tersedia, badak tersebut akan memperdalam genangan air dengan kaki dan culanya. Kebiasaan berkubang membantu badak mempertahankan suhu tubuhnya dan melindungi kulitnya dari ektoparasit dan serangga lainnya. Spesimen di penangkaran, yang tidak mendapat waktu berkubang secara memadai, dengan cepatnya menderita kerusakan kulit dan peradangan, pernanahan, masalah pada mata, peradangan kuku, kerontokan rambut, dan akhirnya mati. Suatu penelitian selama 20 bulan mengenai kebiasaan berkubang mendapati bahwa mereka tidak akan mengunjungi lebih dari tiga kubangan pada setiap waktu tertentu. Setelah 2–12 bulan menggunakan suatu kubangan tertentu, badak tersebut akan meninggalkannya. Biasanya mereka berkubang sekitar tengah hari selama dua sampai tiga jam sebelum mencari makan. Meskipun pengamatan terhadap badak sumatera di kebun-kebun binatang memperlihatkan bahwa mereka berkubang kurang dari 45 menit sehari, penelitian terhadap badak-badak liar menemukan bahwa mereka berkubang antara 80–300 menit (dengan rata-rata 166 menit) sehari.

Cara berkomunikasi Badak Sumatra
                 Badak sumatera merupakan spesies badak yang paling vokal (banyak bersuara). Pengamatan terhadap spesies ini di kebun-kebun binatang memperlihatkan bahwa badak sumatera hampir terus menerus bersuara, dan diketahui bahwa mereka juga melakukannya di alam liar. Badak sumatera mengeluarkan tiga suara berbeda: eep, "paus", dan "tiupan peluit". Eep, berupa satu dengkingan pendek selama satu detik, merupakan suara yang paling umum. "Paus", dinamakan demikian karena kemiripannya dengan vokalisasi paus bungkuk, merupakan suara yang paling serupa dengan nyanyian dan kedua yang paling umum. Nada suara "paus" bervariasi dan berlangsung selama 4–7 detik. "Tiupan peluit" merupakan suara siulan selama 2 detik yang segera disusul dengan suatu semburan udara. "Tiupan peluit" adalah vokalisasi yang paling keras, cukup keras untuk membuat jeruji besi pada kandang kebun binatang di mana badak tersebut diamati menjadi bergetar. Maksud dari semua vokalisasi ini tidak diketahui, meskipun ada teori yang menyatakan bahwa mereka melakukannya untuk menyampaikan adanya bahaya, kesiapan secara seksual, dan lokasi, seperti halnya vokalisasi hewan berkuku lainnya. "Tiupan peluit" dapat terdengar dari jarak yang sangat jauh, bahkan dalam semak lebat di mana badak sumatera tinggal. Vokalisasi dengan volume serupa dari gajah terbukti dapat terdengar hingga jarak 9,8 km dan "tiupan peluit" mungkin dapat terdengar sampai sejauh itu juga. Badak sumatera kadang-kadang memilin anakan pohon yang tidak mereka makan. Perilaku ini diyakini sebagai suatu bentuk komunikasi, seringkali menandakan adanya persimpangan dalam suatu lintasan.
Manfaat Ekonomi dari Komoditi Kehutanan (Badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis)), sejauh ini, pemanfaatan gajah jinak di Indonesia telah dilakukan untuk beberapa hal, di antaranya untuk pendidikan dan mitigasi konflik badak dengan manusia. Selain itu, dapat bermanfaat untuk penelitian ekologi, kegiatan konservasi, dan ekowisata.



Manfaat yang dapat dirasakan oleh manusia dari badak yaitu untuk membantu berbagai pekerjaan dalam bidang pertanianculanya dapat dipakai sebagai hiasan dan meningkatkan nilai seni (namun sebaiknya jangan diambil semaunya). Manfaat lainnya adalah membuat jalan, karena tubuhnya yang besar, badak  juga memerlukan jalan yang lebar jika ingin lewat. Saat badak “membelah” hutan, badak juga membuat jalan baru sehingga hewan lain bisa menggunakan jalan baru itu untuk memudahkan mereka dalam mencari makanan. Sebagai Pupuk Alami yang dapat di jual, kotoran badak ternyata bisa menjadi pupuk alami. Dalam sehari, badak bisa mengeluarkan kotoran hingga 18 kali. Badak  juga berperan dalam menyebarkan jenis tanaman. Badak  memakan biji-bijian yang kemudian dibuang dalam bentuk kotoran ke berbagai tempat. Biji-bijian yang sudah diolah di pencernaan gajah akan tercampur dengan kotoran dan secara tidak langsung akan disuburkan oleh pupuk alami itu sehingga bisa cepat tumbuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar