Minggu, 13 Oktober 2019

SOSIOLOGI KEHUTANAN - SUKU BIMA

Makalah Sosiologi Kehutanan                                      Medan,     Oktober  2019
ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI MASYARAKAT
SUKU BIMA – NUSA TENGGARA BARAT

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si.

 Oleh :

David Wiranata
171201157
Konservasi Sumberdaya Hutan 5











PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERAA UTARA
MEDAN
2019


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang  Maha Esa atas berkah anugerah Nya memberikan pengetahuan, dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini dan kepada dosen penanggungjawab Sosiologi Kehutanan Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya dalam pelaksanaan matakuliah hingga terwujudnya makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Semoga makalah ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.


  Medan, oktober 2019



   Penulis





DAFTAR ISI
                                                                                                                                                                                                                                      Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................   i
DAFTAR ISI………..………………………………………................  ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................  2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................... 2
BAB II ISI
          2.1 Interaksi Sosial Suku Bima….................................................. 3
          2.2 Kelompok Sosial Suku Bima................................................... 4
          2.3 Norma-Norma Suku Bima ...................................................... 5
          2.5 Struktur Sosial Masyarakat Suka Bima.....……….................. 6
          2.5 Perubahan Sosial Masyarakat Suku Bima................................6
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN                         
Kesimpulan.................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah Negara kepulauan dengan berbagai keanekaragaman suku ditiap-tiap daerah yang telah diwariskan dari nenek moyang ke generasi-generasi berikutnya, salah satunya adalah provinsi Nusa Tenggara Barat. Disana terdapat pulau Sumbawa dan Lombok yaitu dua pulau terbesar yang berada di Nusa Tenggara Barat. Selain kaya akan sumberdaya alamnya, Provinsi Nusa Tenggara Barat ini memiliki pesona alam yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Namun, pada makalah ini saya akan membahas suku yang berada di pulau Sumbawa yaitu suku Bima dengan berbagai keanekaragaman budaya dan tradisi yang sangat kental dan sudah turun temurun hingga saat ini.
Bima dikenal dengan nama Mbojo  yang berasal dari kata babuju  yaitu tanah yang tinggi  yang merupakan  busut  jantan yang  agak  besar, tempat  bersemayamnya raja-raja ketika dilantik dan disumpah, yang terletak di kamopung  Dara. Sedangkan namn Bima, merupakan nama leluhur raja-raja Bima yang pertama. Dulunya, Bima merupakan kerajaan terpenting di Pulau Sumbawa maupun Di kawasan Sunda Kecil pada Kurun waktu abad ke 17-19.  Kerajaan Bima dalam perkembangannya banyak melakukan hubungan dengan Makasar. Bima terletak di tengah-tengah jalur maritim yang melintasi Kepulauan Indonesia, sehingga menjadi tempat persinggahan penting dalam jaringan perdagangan dari Malaka ke Maluku. Sejumlah peninggalan purbakala dan prasasti serta kutipan dari teks Jawa Kuna seperti Nagarakertagama dan Pararaton membuktikan bahwa pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar abad ke 10 Waktu orang Portugis menjelajahi Kepulauan Nusantara, Biama telah menjadi pusat perdagangan yang berarti.
Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. Untuk itu, dalam pembahasan berikut akan kita lihat bagaimana keragaman masyarakat Bima tersebut, baik dilihat dari imigrasi secara etnis/budaya maupun secara agama/kepercayaan.

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana interaksi sosial suku bima?
2. Bagaimana kelompok sosial suku bima?
3. Bagaimna norma-norma yang ada di suku bima?
4. Bagaimana kelembagaan sosial suku bima?
5. Bagaimana struktur sosial masyarakat suku bima?
6. Bagaimana perubahan sosial masyarkat suku bima?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui interaksi sosial suku bima.
2. Untuk mengetahui kelompok sosial suku bima.
3. Untuk mengetahui norma-norma yang ada di suku bima.
4. Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat suku bima.
5. Untuk mengetahui perubahan sosial masyarakat suku bima.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Interaksi Sosial Suku Bima
Kerajaan Bima dalam perkembangannya banyak melakukan hubungan dengan Makasar. Bima terletak di tengah-tengah jalur maritim yang melintasi Kepulauan Indonesia, sehingga menjadi tempat persinggahan penting dalam jaringan perdagangan dari Malaka ke Maluku. Sejumlah peninggalan purbakala dan prasasti serta kutipan dari teks Jawa Kuna seperti Nagarakertagama dan Pararaton membuktikan bahwa pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar abad ke 10 Waktu orang Portugis menjelajahi Kepulauan Nusantara, Biama telah menjadi pusat perdagangan yang berarti.
Pada dasawarsa kedua abad ke 16, Tome Pires menggambarkan Bima sebagai berikut: ”Pulau Bima adalah pulau yang diperintah oleh seorang raja kafir. Dimilikinya banyak perahu dan banyak bahan makanan, serta juga daging, ikan, dan asam, dan juga banyak kayu sapang yang dibawanya ke Malaka untuk dijual, dan orang pergi ke Malaka untuk membelinya karena mudah dijual di Cina; kayu sapang tipis, dan harganya di Cina lebih murah dari kayu sapang Siam yang lebih tebal dan lebih bermutu. Bima juga memiliki banyak budak dan banyak kuda yang dibawanya ke Jawa. Perdagangan di pulau itu ramai. Orangnya hitam berambut lurus. Terdapat banyak dusun, banyak orang, dan banyak hutan. Orang yang berlayar ke Banda dan Maluku singgah di situ dan membeli berbagai jenis ikan, yang kemudian dijualnya di Banda dan Maluku. Pulau itu juga mempunyai sedikit emas. Batas wilayah Bima di sebelah utara Laut Flores, sebalah selatan Samudra Hindia, sebelah timur Selat Sape, sedangkan batas sebelah barat adalah Kabupaten Dompu. Secara fisiografi terletak pada 1170 40’-1190 10’ BT dan 700 30’ -700 91’ LS.
Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. Untuk itu, dalam pembahasan berikut akan kita lihat bagaimana keragaman masyarakat Bima tersebut, baik dilihat dari imigrasi secara etnis/budaya maupun secara agama/kepercayaan.
2.2. Kelompok Sosial Suku Bima
Sistem stratifikasi sosial masyarakat Suku Bima sejak dahulu telah memberikan posisi yang istimewa dan kedudukan yang strategis terhadap kaum bangsawan sebagai elite jika dibandingkan kelompok masyarakat lainnya dalam struktur sosial yang ada. Para bangsawan tersebut menjadi pemimpin tertinggi dalam struktur politik atau struktur kekuasaan. Berdasarkan kasta-kasta atau golongan-golongan dan kasta-kasta atau golongan-golongan tersebut dianggap sebagai faktor penting yang menguasai sehingga dapat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan religius masyarakat tersebut. Oleh karena itu, masyarakat Suku Bima terkenal sebagai masyarakat yang sangat ketat mempertahankan aturan pelapisan sosial. Sehubungan dengan penempatan posisi bangsawan dalam stratifikasi sosial ini, di dalam masyarakat Bima terdapat hubungan yang sangat kompleks antara indvidu yang satu dengan individu lainnnya. Seperti kita ketahui bahwa pada masa lalu hubungan-hubungan yang paling erat adalah hubungan antara bangsawan dan para pengikutnya. Kelompok Orang Donggo dikenal sebagai penduduk asli yang telah menghuni tanah Bima sejak lama. Mereka sebagian besar menempati wilayah pegunungan. Karena letaknya yang secara geografis di atas ketinggian rata-rata tanah Bima, Dou Donggo (sebutan bagi Orang Donggo dalam bahasa Bima), kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalani masyarakat Bima saat ini. Masyarakat Donggo mendiami sebagian besar wilayah Kecamatan Donggo sekarang, yang dikenal dengan nama Dou Donggo, sebagian lagi mendiami Kecamatan Wawo Tengah (Wawo pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu Dou Donggo Ele. Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru pula, seperti agama Islam, Kristen dan bahkan Hindu/Budha. Hal ini dilakukan mengingat masih kuatnya kepercayaan dan pengabdian mereka pada adat dan budaya asli yang mereka anut jauh-jauh hari sebelum para pendatang tersebut datang.
Dou Mbojo yang dikenal sekarang awalnya merupakan para pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitarnya seperti Makassar, Bugis, dengan mendiami daerah-daerah pesisir Bima. Mereka umumnya berbaur dengan masyarakat asli dan bahkan menikahi wanita-wanitanya. Para pendatang ini dating pada sekitar abad XIV, baik yang datang karena faktor ekonomi seperti berdagang maupun untuk menyiarkan agama sebagai mubaliqh. Mata pencaharian mereka cukup berfariasi seperti halnya bertani, berdagang, nelayan/pelaut dan sebagian lagi sebagai pejabat dan pegawai pemerintah.
2.3. Norma-Norma Yang Ada Di Suku Bima
Kebudayaan Bima memiliki banyak nilai-nilai dan norma-norma dalam kehidupan masyarakatnya, seperti yang ditunjukkan dalam beberapa penelitian mengenai alam kebudayaan orang Bima. Nilai-nilai dalam cerminan sejarah dan wujudnya dalam konteks hari ini menimbulkan ragam analisis, namun jika ditarik secara umum memperlihatkan dua pandangan. Pandangan pertama lebih menekankan bagaimana nilai-nilai budaya dahulu di-reaktualisasikan pada beberapa aspek yang diantaranya adalah penanaman budaya lokal pada tatanan politik atau sebagai model politik. Sementara pandangan kedua lebih menafsirkan nilai-nilai budaya telah mengalami pergeseran makna yang menyebabkan kekuasaan di daerah semakin terbuka setidaknya untuk kalangan elit, yakni kecenderungan dominasi kelompok keturunan kerajaaan.
Norma kepercayaan ini merupakan kepercayaan asli penduduk Dou Mbojo. Sebagai media penghubung manusia dengan alam lain dalam kepercayaan ini, diangkatlah seorang pemimpin yang dikenal dengan nama Ncuhi Ro Naka. Mereka percaya bahwa ada kekuatan yang mengatur segala kehidupan di alam ini, yang kemudian mereka sebut sebagai “Marafu”. Sebagai penguasa alam, Marafu dipercaya menguasai dan menduduki semua tempat seperti gunung, pohon rindang, batu besar, mata air, tempat-tempat-tempat dan barang-barang yang dianggap gaib atau bahkan matahari. Karena itu, mereka sering meminta manfaat terhadap benda-benda atau tempat-tempat tersebut. Selain itu, mereka juga percaya bahwa arwah para leluhur yang telah meninggal terutama arwah orang-orang yang mereka hormati selama hidup seperti Ncuhi, masih memiliki peran dan menguasai kehidupan dan keseharian mereka. Mereka percaya, arwah-arwah tersebut tinggal bersama Marafu di tempat-tempat tertentu yang dianggap gaib. Masyarakat asli juga memiliki tradisi melalui ritual untuk menghormati arwah leluhur, dengan mengadakan upacara pemujaan pada saat-saat tertentu. Upacara tersebut disertai persembahan sesajen dan korban hewan ternak yang dipimpin oleh Ncuhi. Tempat-tempat pemujaan tersebut biasa dikenal dengan nama “Parafu Ra Pamboro”.
2.4. Struktur Sosial Masyarakat Suku Bima
Rimpu merupakan sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima (Dou Mbojo). Budaya "rimpu" telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khasyang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam Rimpu adalah cara berbusana masyarakat Bima yang menggunakan sarung khas Bima. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”katente” (menggulungkan sarung di pinggang). Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima yang dikenal dengan Muna. Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon). ( M.Hilir Ismail 2005 ).
2.5. Perubahan Sosial Masyarakat Suku Bima
            Dalam perkembangannya Budaya rimpu merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri khas masyarakat Bima.Rimpu bagi kaum wanita di Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai Rimpu Mpida—yang artinya seluruh anggota badan terselubung kain sarung dan hanya mata yang dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisakan ruang terbuka pada bagian mata. Sedangkan bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai Rimpu Colo. Dimana bagian muka semua terbuka. Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya. Perempuan-perempuan Bima enggan untuk keluar rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja budaya tapi implementasi dari syariat islam.




BAB III
PENUTUPAN
Kesimpulan

1.      Suku Bima sangat menghormati peninggalan sejarah dan budaya dalam kehidupan mereka.
2.      Sistem organisasi sosial yang terdapt disuku bima cukup menarik untuk diketahui, yaitu, kedudukan kaum perempuan dan kaum pria sangat menaati agama
3.      Kelompok bangsawan yang sudah modern adalah mereka yang sudah mau membuka diri dengan lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dalam kehidupan lingkungan pekerjaan.







DAFTAR PUSTAKA
Henri Chambert-Loir, Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2004.
M.Hilir Ismail , Sejarah Kebudayan Masyarakart Bima. Mataram : Lengge Press, 2005.

Malik Hasan Mahmud , Gusu Waru. Mataram : Lengge Press, 2009.
Nurfati , Mengenal Budaya Rimpu Pada Perempuan Bima Bima: 2010 ( tidak di terbikan makalah pada diskusi kebudayaan yang di selenggarakan oleh forum perempuan Bima).
Siti Mariam , Hukum Adat Dan Undang-Undang Bandar Bima. Mataram: Lengge 2004.


12 komentar: